Sudah 32 Tahun Tragedi Bintaro

0
1178
Sudah 32 Tahun Tragedi Bintaro

VIVA – Puluhan tahun sudah berlalu, tapi ingatan tentang ‘Tragedi Bintaro’ masih lekat di ingatan banyak orang. Senin pagi 19 Oktober 1987, saat angkutan umum sedang dipadati penumpang, terjadi musibah kereta api terbesar di Tanah Air dari segi korban jiwa.

Musibah itu dikenal dengan nama ‘Tragedi Bintaro’. Sebanyak 156 penumpang meninggal dunia dan sekitar 300 lainnya luka-luka, ketika dua kereta api yang berlawanan arah melaju dalam satu jalur.

Sebuah kereta api yang berangkat dari Rangkas Bitung bertabrakan dengan kereta api yang berangkat dari Stasiun Tanah Abang. Kedua kereta terguling dan ringsek, lokomotif dengan seri BB 30316 dan BB 30616 itu hancur lebur. Akibat benturan yang sedemikian keras dan cepat, separuh gerbong lokomotif BB-303 16 meringsek ke dalam gerbong pertama yang ditariknya.

Kecelakaan nahas itu terjadi karena kesalahpahaman komunikasi dan koordinasi antar stasiun, serta ketidaktahuan petugas. Hingga akhirnya di tikungan S ± Km 18.75, tabrakan antara KA 225 dengan KA cepat 220 jurusan Tanah Abang-Merak pun tidak terelakan.

Lokasi dianggap mistis

Saksi mata, Mahfud (39) tinggal di kawasan tersebut sejak lahir, masih berusia 13 tahun ketika ‘Tragedi Bintaro’ terjadi. Ia mengungkapkan, kecelakaan memang sering terjadi di pintu perlintasan itu.

Warga sering mengaitkannya dengan hal mistis ketika akan terjadi kecelakaan di daerah tersebut. Menurut warga di sana, akan ada suatu pertanda sebelum kecelakaan terjadi. Misalnya, biasanya ada warga yang melihat sosok anak kecil berlarian. Masih menurut Mahfud, kecelakaan lebih banyak terjadi di hari Senin.

Sanksi bagi masinis

Pihak pertama yang dituding bersalah atas musibah itu, tak lain adalah masinis. Slamet adalah masinis di balik kemudi KA 225 jurusan Rangkas Bitung-Jakarta Kota. Dia dianggap menyalahi aturan karena memberangkatkan kereta tanpa izin Pimpinan Perjalanan Kereta Api (PPKA). Usai musibah itu, Slamet enggak hanya kehilangan pekerjaan tapi juga divonis 5 tahun penjara.

Selepas penjara, Slamet sempat bekerja di kereta api sebagai pembantu di Dipo. Tapi sayang, pada 1994 dia diberhentikan dengan tidak hormat oleh Dirjen Perkeretaapian. Setelah itu, ia mengisi hari tuanya dengan berjualan asongan.

Diangkat jadi lagu dan film

‘Tragedi Bintaro’ enggak hanya menjadi perhatian publik Tanah Air, tapi juga menjadi keprihatinan dunia internasional. Tragedi itu juga menjadi inspirasi bagi para seniman dan musisi. Salah satu musisi senior, Iwan Fals menulis lagu ‘1910’ mengenai tragedi itu. Lagu ‘Masih Ada Waktu’ diciptakan oleh Ebiet G Ade. Selang beberapa tahun kemudian, kisahnya diangkat ke layar lebar dengan judul ‘Tragedi Bintaro’ pada 1989.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here