Menyantap Kuliner Khas Jeneponto

0
1213
Menyantap Kuliner Khas Jeneponto

Selain memiliki tiga kota, Provinsi Sulawesi Selatan juga memiliki 21 kabupaten dengan area yang sangat luas. Masing-masing kabupaten memiliki tradisi, budaya, serta kuliner yang berbeda-beda. Salah satu kabupaten yang cukup unik untuk dibahas dari sisi tradisi dan kuliner yaitu Kabupaten Jeneponto.

Kabupaten Jeneponto dengan julukan “Bumi Turatea” ini berjarak sekitar 2 jam dari Kota Makassar. Kabupaten ini memiliki populasi kuda terbesar di Sulawesi Selatan.

Terdapat sebuah pasar hewan di mana kita dapat menyaksikan transaksi jual beli atau pelelangan kuda, yakni di Pasar Tolo yang merupakan pasar kuda terbesar yang ada di provinsi Sulawesi Selatan.

Sebagian besar warga lokal memelihara kuda untuk diternak, membantu bekerja di kebun, ajang pacuan kuda tradisional, ataupun sebagai moda transportasi.

Selain itu, masyarakat di kabupaten Jeneponto juga memiliki tradisi menyantap daging kuda yang merupakan hal umum bagi warga setempat sejak dahulu.

Kuliner khas kabupaten Jeneponto yang paling terkenal adalah Gantala Jarang dan Coto/Konro Kuda. Gantala Jarang merupakan hidangan tradisional yang terbuat dari daging kuda yang direbus lama ke dalam panci berupa potongan drum lalu ditambahkan dengan bumbu sederhana berupa garam kasar, asam, dan beberapa jenis akar-akaran.

Rasa serta aromanya sangat khas, sangat berbeda dengan Coto/Konro Kuda. Gantala Jarang biasanya hanya menjadi menu wajib dan dibuat pada saat sedang ada acara besar seperti pesta perkawinan atau peresmian, itulah sebabnya pada hari-hari biasa kita akan cukup sulit untuk menemukan menu yang satu ini.

Namun jangan khawatir, sebab kuliner daging kuda yang lainnya tetap dapat kita santap di tempat ini seperti Coto Kuda atau Konro Kuda. Adapun warung yang menyediakan kedua menu tersebut bisa kita temukan hampir di setiap sudut kabupaten Jeneponto.

Warung Coto Kuda yang namanya sudah cukup melegenda bagi masyarakat di kabupaten Jeneponto adalah Warung Coto Kuda Turatea Belokallong.

Warung milik H. Sukri Daeng Rumpa ini terletak di depan lampu merah Belokallong kecamatan Binamu. Ketika berkunjung ke tempat ini, aroma wangi kaldu Coto berbahan dasar daging kuda akan membuat kita tak ingin melewatkan kuliner unik yang satu ini. Kita dapat memilih jenis isian Coto Kuda pada saat memesan seperti daging maupun jeroan.

Bagi beberapa orang yang baru pertama kali mencicipi kuliner berbahan dasar daging kuda pasti membutuhkan adaptasi untuk terbiasa dengan menu ini. Namun hidangan Coto Kuda di Warung Coto Kuda Turatea Balokellong ini memiliki aroma yang didominasi oleh bumbu rempah sehingga dapat menutupi bau unik dari daging kuda tersebut.

Hal ini lah yang membuat menu Coto Kuda di tempat ini dapat dinikmati oleh siapa saja, bahkan bagi pengunjung yang baru pertama kali menyantap daging kuda.

Kuah kaldu Coto di warung ini cenderung kental, wangi dan sangat lezat. Isian daging kudanya juga memiliki tekstur yang empuk sehingga tak membutuhkan usaha yang keras untuk mengunyah Coto Kuda Turatea ini.

Sebagai sumber karbohidrat, kita dapat menyantap semangkuk Coto Kuda dengan ketupat pandan yang wangi. Tentu saja kedua menu ini sangat sulit untuk dipisahkan.

Masyarakat di kabupaten Jeneponto percaya bahwa dengan menyantap menu hidangan daging kuda dapat menambah energi dan vitalitas, ataupun dipercaya pula sebagai obat ampuh anti-tetanus.

Semangkuk menu Coto Kuda di Warung Coto Kuda Turatea Belokallong ini memiliki harga yang cukup terjangkau, yakni hanya Rp.35.000,- per porsinya.

Bagi yang sama sekali tak menyukai kuliner daging kuda, terdapat juga menu Coto Ayam Kampung di warung ini. Coto Ayam Kampung juga merupakan menu tradisional khas dari kabupaten Jeneponto.

Tradisi menyantap daging kuda di kabupaten Jeneponto ini memang cukup unik dari sisi tradisi serta kuliner di provinsi Sulawesi Selatan. Hal ini merupakan salah satu daya tarik utama bagi para turis untuk berkunjung ke tempat ini.

Itulah sebabnya masyarakat Jeneponto tetap melestarikan tradisi menggunakan manfaat dari kuda untuk menunjang beberapa hal, tak hanya sebagai moda transportasi atau ajang pacuan kuda tradisional, namun juga sebagai salah satu warisan ragam kuliner yang unik di Nusantara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here