Ma’ruf Amin di Jadikan Contoh Kebangkitan Santri di Surabaya

0
1257
Ma'ruf Amin di Jadikan Contoh Kebangkitan Santri di Surabaya

Pemerintah Kota Surabaya menggelar peringatan Hari Santri Nasional (HSN) di Monumen Tugu Pahlawan, Selasa (22/10). Peringatan HSN tahun ini bertajuk ‘Santri Unggul, Indonesia Makmur.’

Ketua DPRD Surabaya, Adi Sutarwidjono atau yang kerap disapa Awi, mengatakan peringatan HSN kali ini cukup berkesan.

Hal yang membuat berkesan karena salah satu Kiai besar NU, sekaligus mantan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ma’ruf Amin, resmi dilantik sebagai Wakil Presiden periode 2019 – 2024. Ma’ruf menjadi contoh bahwa santri mampu untuk menjadi pemimpin di Indonesia.

“Mudah-mudahan momentum ini menjadi upaya pemberdayaan santri sehingga menjadi mandiri ke depan,” ujar Awi saat di Tugu Pahlawan, Surabaya, Selasa (22/10).

Ketua PDIP Kota Surabaya ini juga berharap para santri mampu menjadi perekat antargolongan dalam sosial kemasyarakatan di Surabaya. Sehingga, Surabaya tetap kondusif dan aman dengan berbagai latar belakang dan kemajemukannya.

“Surabaya menjadi rumah bersama semua golongan. Karena ini kota urban, berbagai masyarakat datang dari berbagai latar belakang. Santri berperan untuk menjaga surabaya semakin kondusif,” terangnya.

Sementara itu, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini tak hadir di lokasi. Sedianya, Risma dijadwalkan sebagai inspektur upacara pada HSN di Monumen Tugu Pahlawan. Namun, digantikan oleh Ketua PCNU Surabaya, Muhibbin Zuhri.

Awi menyebut, Risma kelelahan usai melakukan perjalanan dinas cukup jauh ke Jerman untuk mengisi sebuah acara. Risma butuh istirahat penuh.

“Saya mendengar Bu Wali sakit, karena kemarin dari luar negeri. Kecapean mungkin,” ungkapnya.

Selain itu, Awi juga menampik alasan Risma karena memenuhi panggilan Jokowi sebagai menteri di Istana. “Enggak (ke istana). Dari perjalanan internasional dan cukup melelahkan saya pikir,” tegasnya.

Adapun Ketua PCNU Surabaya, Muhibbin Zuhri, menegaskan agar santri menjadi benteng kuat dalam melawan radikalisme dan intoleransi beragama yang kerap muncul di tengah masyarakat.

“Santri harus mengambil peran relevan dan signifikan dalam berbangsa dan bernegara dalam seluruh sektor kehidupan, ekonomi, sosial budaya, termasuk politik,” jelas Muhibbin.

Muhibbin menilai, dengan gerakan dakwah santri secara massif dan sistematis di berbagai lini masyarakat. Termasuk memanfaatkan teknologi saat ini, maka radikalisme dan intoleransi dapat ditekan seminimal mungkin.

“Dakwah harus lebih massif dan serius sehingga kehadiran yang semakin massif itu akan mengurangi dampak dari radikalisme dan intoleransi yang mengatasnamakan agama,” kata dia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here