Kisah Haru Ratih Terpisah Sang Ayah Selama 26 Tahun

0
1372
Kisah Haru Ratih Terpisah Sang Ayah Selama 26 Tahun

Batam – 26 tahun lamanya Ratih (27) wanita asal Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara, terpisah dengan sang ayah. Hari demi hari dilewati Ratih tanpa kasih sayang seorang bapak.

Rindu begitu kuat dalam batinnya, ia pun yakin, orang yang dicarinya masih hidup hingga saat ini. Rasa penasaran membuatnya tak putus asa untuk terus mencari keberadaan pria tersebut.

Ratih berpisah dengan ayahnya sejak usianya 10 bulan. Pria yang bernama Dayat itu merantau ke Batam untuk mencari peruntungan.

Dayat sempat bekerja sebagai buruh di salah satu pabrik di Kawasan Industri Batamindo hingga 1993 dan tinggal di Rumah liar (ruli) di sekitar kawasan Mukakuning, Sei Beduk, hingga sekitar tahun 1999. Sampai akhirnya tempat tinggal Dayat di gusur.

Sejak itu komunikasinya dengan keluarga terputus hingga 2019. Kabar terakhir yang mereka dapat, Dayat berencana untuk merantau ke Singapura.

Setelah 26 tahun 2 bulan tak pernah berkomunikasi dan berjumpa dengan sang ayah. Pada beberapa bulan terakhir, Ratih tiba-tiba terpikirkan untuk mencari ayahnya itu.

Berbagai cara ia lakukan, salah satunya dengan mencoba menghubungi jurnalis dari Pulau Jawa untuk membantu mem-posting ceritanya. Namun usahanya tak kunjung membuahkan hasil.

Mengingat sang ayah tinggal di Batam, Ratih kembali mencoba memberanikan diri menghubungi Batamnews untuk mencari tahu nama lokasi yang sempat ayahnya tinggali.

Hingga akhirnya tim media sosial Batamnews menyarankan untuk mem-posting foto, nama, alamat terakhir sang ayah di halaman Facebook Batam.

“Beberapa bulan yang lalu tiba-tiba kepikiran mau cari ayah saya, takut enggak ada yang urus. Terus beranikan diri hubungi admin Instagram Batamnews. Saya disarankan posting di Facebook grup Batam, siapa tahu terbaca informasinya,” kata Ratih, Sabtu (19/10).

Perjuangan Ratih bukan tanpa rintangan omongan tak sedap dari tetangga dan orang sekitar sering kali didengar. Terutama saran untuk tak melanjutkan pencarian.

Namun, semangat Ratih masih tinggi, karena mendapat dukungan dari seluruh keluarga. Pada 16 Oktober 2016, perjuangan Ratih terbayarkan. Ada seorang laki-laki yang menghubunginya dan mengaku sebagai teman dari sang ayah.

Sempat ragu, Ratih pun juga mengajukan beberapa pertanyaan pribadi dan semua bisa dijawab dengan benar. Itulah untuk pertama kalinya Ratih kembali berkomunikasi dengan sang ayah.

“Karena banyak juga yang telepon ngaku-ngaku dan minta uang kepada saya. Makanya saya tanya nama-nama keluarga dan informasi pribadi, keluarga, dan ayah masih hafal semuanya. Berati benar itulah ayah saya,” ucapnya.

Karena jarak yang begitu jauh, Ratih pun meminta izin untuk melihat wajah sang ayah melalui video call. Haru, senang, dan sedih bercampur dalam perasaannya.

Anak dan ayah ini berurai air mata, terutama ayah yang melihat perjuangan anaknya mencari dirinya. Sosok yang dirindukannya selama puluhan tahun akhirnya bisa kembali bertatap muka.

“Ayah sempat nangis saat video call sambil bilang Ratih nyariin ayah? Tahu kondisi ayah seperti itu saya juga sedih kenapa baru sekarang saya cari ayah. Saat video call ayah tampak kurus dan tak terurus,” ungkapnya.

Tak hanya Ratih, derai air mata juga menyelimuti seluruh keluarga, terutama adik dan kakak kandung Dayat. Mereka yang selama ini tak mengetahui saudaranya masih hidup atau tidak, akhirnya kembali mendengar kabar.

Mereka pun sempat tak menyangka, anak yang telah terpisah puluhan tahun itu bisa menemukan ayah kandungnya kembali. Ternyata kini, sehari-hari Dayat bekerja mencari ikan di danau untuk menopang kehidupannya. Dirinya pun tinggal di gubuk kecil pinggir Dam Duriangkang, Sei Beduk agar lebih mudah saat pergi memancing.

Ratih mengaku, melihat kondisi sang ayah, rasa bahagia bertemu sang ayah melalui video call terasa masih belum lengkap. Ratih berharap suatu hari bisa menjemput Dayat untuk kembali pulang ke Air Joman, Asahan dan merawatnya di hari tua.

“Sempat ayah tanya ada niatan tidak untuk ke Batam, sebagai anak saya sangat ingin, jika ada rezeki saya ingin ke Batam bawa ayah ke medan tinggal bersama saya. Ayah pun bilang ada niatan untuk pulang lebarang nanti, dia juga mengaku setelah saya mencarinya, dia lebih semangat lagi untuk mengumpulkan uang pulang,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here