Fakta Unik Tugu Dirgantara

0
2075
Fakta Unik Tugu Dirgantara

JAKARTA, KOMPAS.com – Kapolri Jenderal Pol Idham Azis mengaku tak mempersoalkan apabila ada pihak yang tidak menyukai dirinya.

Sambil berkelakar, Idham bahkan sempat menganalogikan dirinya bak Patung Pancoran.

“Kalau masalah suka atau tidak suka, Patung Pancoran juga banyak yang tidak suka. Apalagi saya,” kata Idham Azis saat acara pisah sambut dengan Kapolri sebelumnya di Mako Brimob Kepala Dua, Depok, Jawa Barat, Rabu (6/11/2019).

Mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Polri itu pun bersyukur bila kelak banyak yang menyukainya. Meski demikian, ia menyatakan bahwa dirinya tidak akan dapat memuaskan seluruh pihak.

“Jadi abang-abang kalau suka, terima kasih, kalau tidak suka ya saya tinggal,” kata dia.

Berbicara mengenai Patung Pancoran yang disinggung Idham, ada sejumlah fakta menarik tentang patung yang pembangunannya digagas Presiden pertama Indonesia, Soekarno, ini.

Berikut fakta-fakta tersebut:
Digagas 1964-1965

Berdasarkan buku Konservasi Patung Dirgantara yang diterbitkan Pusat Konservasi Cagar Budaya DKI Jakarta pada 2015, diketahui gagasan pembangunan patung ini mencuat pada 1964-1965.

Nama asli patung ini adalah Patung Dirgantara. Hal itu berkaitan dengan visi Soekarno soal dunia kerdigantaraan.

“Disebut Patung Pancoran karena nama daerahnya Pancoran. Namanya penduduk, lebih gampang menyebut Patung Pancoran,” kata konservator dari Pusat Konservasi Cagar Budaya DKI Jakarta, Sukardi, kepada Kompas.com, 28 Mei 2018 lalu.

Sekitar tahun 1964, Soekarno meminta pematung, Edhi Sunarso, untuk membuat sebuah monumen yang dapat merepresentasikan sebagai sebuah bentuk penghormatan kepada para pahlawan penerbang Tanah Air.

“Kita memang belum bisa membuat pesawat terbang, tetapi kita punya pahlawan kedirgantaraan Indonesia yang gagah berani,” kata Soekarno kepada Edhi Sunarso.

“Kalau Amerika dan Soviet bisa membanggakan dirinya karena punya industri pesawat, kita juga harus punya kebanggaan,” ujar Soekarno.

Sempat ditolak Soekarno

Patung yang terletak di Jalan Gatot Subroto itu terbuat dari material perunggu. Tingginya mencapai 11 meter dengan berat mencapai 11 ton.

Adapun pedestal atau tiang penyangga terbuat dari material beton setinggi 27 meter.

Semula, Edhi merancang Patung Pancoran dengan figur seorang lelaki berotot dengan sehelai kain terjuntai di bagian bahu yang seolah tertiup angin.

Ekspresi wajahnya keras dengan mulut terkatup dan tatapan mata tajam ke depan. Salah satu tangannya sengaja dibuat menunjuk untuk menggambarkan gestur melaju dan seakan melesat menuju angkasa.

Soekarno pun menyetujui gagasan tersebut.

Akan tetapi, ketika Edhi ingin menambahkan pesawat untuk digenggam oleh patung tersebut, Soekarno menolaknya. Ia beralasan, pesawat yang akan digenggam bak mainan anak-anak.

Uang Soekarno

Untuk membangun patung tersebut, biaya yang dibutuhkan mencapai Rp 12 juta. Biaya tersebut di luar biaya pembangunan tiang penyangga.

Pemerintah kemudian menggelontorkan uang muka Rp 5 juta untuk pembangunannya. Sementara Soekarno merogoh kocek Rp 1 juta dari kantong pribadinya.

Edhi kemudian memulai pembangunan patung tersebut dengan merogoh kocek pribadinya termasuk hutang kepada bank dan pemilik perunggu.

Namun, peristiwa Gerakan 30 September 1965 berimbas pada tertundanya pemasangan patung pada tiang penyangga.

Tiang penyangga dan potongan-potongan patung yang siap dirangkai pun mangkrak. Sekitar tahun 1970, Soekarno menanyakan nasib pembangunan patung tersebut.

Kepada Soekarno, Edhi bercerita bila dirinya kehabisan uang. Bahkan, utangnya pun belum terbayar dan rumahnya disegel.

Mendengar cerita itu, Soekarno kemudian menjual mobilnya. Uang sebesar Rp 1,75 juta hasil penjualan mobil kemudian diserahkan kepada Edhi untuk merampungkan pemasangannya.

Soekarno tak pernah lihat hasil akhir

Meski menggagas pembangunan patung tersebut, namun Soekarno tidak pernah benar-benar melihat hasil akhir saat patung itu selesai.

Ketika patung itu kembali dipasang, Soekarnor sempat menyambanginya. Namun pada saat itu kondisi Soekarno sudah kurang sehat.

Sekitar Mei 1970, Edhi mendapat mendapat kabar Soekarno ingin kembali menyaksikan prosesi pemasangan patung tersebut. Namun, hal itu urung dilakukan karena kondisinya yang terus menurun.

Pada 21 Juni 1970, Edhi yang tengah bekerja di puncak patung melihat iring-iringan mobil jenazah melintas di bawahnya.

Rupanya, iring-iringan itu membawa jenazah Soekarno dari Wisma Yaso menuju Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma untuk diterbangkan ke Blitar.

Pada akhirnya, Soekarno tidak pernah benar-benar melihat hasil akhir patung yang digagasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here