Berikut ini Penyebab Masih Hidup Pas-pasan di Usia 30 Tahun

0
2070
Berikut ini Penyebab Masih Hidup Pas-pasan di Usia 30 Tahun

JAKARTA, KOMPAS.com – Membangun rumahtangga, membeli rumah hingga investasi merupakan impian banyak orang. Namun realitasnya banyak pula yang sulit mencapai impian tersebut.

Bahkan tak jarang banyak orang yang masih sulit keluar dari hidup pas-pasan memasuki usia 30 tahun. Padahal pekerjaan tetap sudah ada di tangannya. Kenapa hal itu bisa terjadi?

Perencana Keuangan, Aidil Akbar menilai ada setidaknya 4 penyebab belum mampunya seseorang berinvestasi, memiliki rumah sendiri, atau masih hidup pas-pasan di usia 30 tahun.

Pertama yakni gaya hidup tak seimbang dengan penghasilan. Hidup di kota metropolis memang penuh godaan. Pusat perbelanjaan, tempat hiburan, hingga gemerlapnya tempat nongkrong membuat banyak orang terperangkap dengan gaya hidup boros.

Sementara di sisi lain, gaji yang diterima cukup pas-pasan atau bahasa karyawannya sesuai Upah Minimum Regional (UMR).

“Kalau gajinya Rp 2 miliar ya bisa saja gaya hidup tinggi. Tapi, kalau gajimu sesuai UMR itu kan gaji untuk satu orang, bukan satu keluarga. Jadi intinya, problemnya dulu yang dilihat. Bukan masalah enggak bisa investasi atau tidaknya, tapi ini kan gajinya pas-pasan,” ucapnya kepada Kompas.com, Selasa (5/11/2019).

Ia memberi contoh, biaya hidup di Jakarta. Untuk biaya makan, minum, komunikasi, termasuk transportasi serta gaya hidup sebesar Rp 1,5 juta. Kemudian ada biaya sewa rumah atau kost dengan kisaran Rp 750.000 hingga Rp 1,5 juta per bulan. Maka, total pengeluaran per bulan mencapai Rp 3 juta.

“Kalau gajinya Rp 4 juta, itu memang pas banget. Tapi, tergantung orangnya lagi. Ada orang gaji pas-pasan, justru bisa berhemat dan bisa menyisihkan Rp 500.000. Misalnya, dia enggak makan di luar, masak sendiri, jarang nongkrong,” jelasnya.

Kedua, malas cari pekerjaan tambahan. Hal ini sebenarnya bisa jadi solusi bagi Anda yang gajinya pas-pasan. Namun solusi ini kadang tak mau dipilih orang. Akibatnya upaya untuk keluar dari hidup pas-pasan jadi kian sulit.

Mencari pekerjaan tambahan bisa dilakukan sendiri atau bisa juga oleh keluarga bagi Anda yang sudah berumahtangga.

“Kalau misalnya orang itu sudah punya isteri dan anak, ya harusnya isterinya kerja juga (bekerja). Namun bila sang suami tidak memperbolehkan isterinya bekerja, bisa saja pagi kerja kantoran, terus malamnya nge-Gojek atau Grab,” ucap Aidil.

Ketiga, malas menyisihkan penghasilan untuk menabung atau investasi. Bagi Anda yang sudah memiliki pekerjaan tambahan dan berkeluarga, sebaiknya mulailah alokasikan penghasilan tambahan tersebut untuk berinvestasi.

Sedangkan yang masih single nih, mulai biasakan sejak punya penghasilan disisihkan kisaran 10-15 persen per bulan. Penghasilan yang disisihkan tersebut bisa menjadi dana tabungan yang bisa digunakan untuk rencana jangka pendek maupun jangka panjang.

Selain itu alokasikan juga penghasilan untuk dana darurat. Untuk dana ini Anda disarankan mengalokasikan 30 persen pendapatan.

“Kalau untuk dana darurat itu disisihkan di awal sebelum berinvestasi. Karena nabung itu kan merupakan dana darurat. Kalau misalkan masih single, maka tiga bulan dari penghasilannya disisihkan. Jika perencanaan darurat sudah terpenuhi, maka dia bikin perencanaan jangka pendek dan jangka panjang,” ucapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here