Berikut Fakta Soal Lem Aibon

0
1144
Berikut Fakta Soal Lem Aibon

Belakangan ini, lem aibon mendadak jadi perbincangan hangat di media sosial. Alasannya, ada kabar yang mengatakan anggaran Pemprov DKI untuk pembelian lem aibon mencapai Rp 82 miliar dalam RAPBD 2020.

Informasi itu diketahui pertama kali muncul dari postingan anggota DPRD DKI Fraksi PSI, William Aditya Sarana, di akun Twitter miliknya, @willsaran. Ia menemukan kejanggalan dalam alokasi anggaran untuk pembelian lem aibon, dan meminta penjelasan kepada Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

Menanggapi hal ini, Anies mengatakan bahwa pihaknya telah mengetahui masalah ini lebih dulu. Namun ia mengaku tidak ingin mempublikasikannya ke media sosial.

“Sebelum mereka (PSI) ngomong, saya sudah ngomong, saya sudah bicara, kita review. Bedanya saya tidak manggung. Bagi orang-orang baru manggung ini adalah kesempatan beratraksi,” kata Anies di Balai Kota DKI, Jakarta, Rabu (30/10).

Terlepas dari kontroversi itu, sebenarnya apa lem aibon tersebut?

Menurut situs resmi Aica Indonesia, aica aibon atau lem aibon adalah cairan perekat serbaguna yang terbuat dari bahan sintetis dan pelarut organik. Aibon ini tersedia dalam dua jenis varian, yakni jenis toluene atau non-toluene, atau oles dan semprotan.

Dalam studi yang dilakukan oleh tiga peneliti, yakni Azhary Adhyn Achmad, Nandang Mulyana, dan Muhammad Fedryansyah, dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial, Universitas Padjadjaran (Unpad), menjelaskan bahwa lem aibon adalah sejenis bahan serbaguna yang dipakai untuk merekatkan berbagai alat atau barang.

Lem ini berguna untuk merekatkan berbagai barang berbahan kulit, seperti tas, sepatu, plastik, kayu, karet, dan lain-lain. Lem aibon juga termasuk kedalaman zat adiktif yang berbahaya.

Zat yang ada di dalam lem ini adalah zat kimia yang bisa merusak sel-sel otak dan membuat seseorang menjadi tidak normal jika dihirup secara berlebihan. Bahkan dalam jangka panjang, bisa menimbulkan kematian.

Salah satu zat berbahaya yang terkandung di dalam lem aibon adalah Lysergic Acid Diethyilamide (LSD). LSD adalah halusinogen yang paling terkenal. Ini merupakan narkoba sintetis yang disarikan dari jamur kering atau dikenal sebagai ergot yang tumbuh pada rumput gandum.

LSD bersifat cair, tidak berwarna dan tidak berbau, serta sering diserap ke dalam zat yang cocok, seperti kertas pengisap dan gula blok, atau dapat dipadukan dalam tablet, kapsul, atau terkadang gula.

Jika digunakan atau dikonsumsi, LSD dapat menimbulkan efek seperti merasa nyaman atau tenang. Sering kali ada perubahan pada persepsi, penglihatan, suara, penciuman, dan perasaan.

Adapun efek negatif dari zat ini, yakni dapat menimbulkan hilangnya kendali emosi, disorientasi, depresi, kepeningan, perasaan panik yang akut, dan perasaan tak terkalahkan, yang bisa mengakibatkan pengguna menempatkan diri dalam situasi bahaya.

Sedangkan penggunaan jangka panjang dapat mengakibatkan sorot balik pada efek halusinogen, yang dapat terjadi berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Efek ketergantungan atau kecanduan pada LSD juga dapat terjadi. Efek LSD akan menghilang kurang lebih 6 sampai 12 jam setelah pemakaian, tergantung pada dosis, toleransi, berat badan, dan umur.

Oleh karena lem aibon ini mengandung zat LSD, maka tak heran sering disalahgunakan di kalangan anak-anak jalanan, dengan istilah “ngelem”. Biasanya mereka menghirup lem ini untuk menciptakan efek halusinasi, “fly”, “happy”, dan memabukkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here